PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

  1. Pengantar

Pembelajaran matematika telah mengalami perubahan mendasar dari pendekatan transfer pengetahuan (trasfer of knowledge) ke dalam memori peserta didik, menjadi pembelajaran dengan pendekatan yang mengarahkan peserta didik  memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki (prior knowledge) atau pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif peserta didik, dalam melakukan asimilasi informasi baru, untuk membangun pemahaman sendiri. Pembelajaran akan lebih bermakana apabila didasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik bukan berdasarkan pengethauan yang dimiliki guru. Pembelajaran dipandang sebagai suatu proses aktif dan interaktif untuk menghasilkan pemaknaan dan pemahaman yang akan merubah knowledge, psikomotor, afektif, karakter, pandangan, peserta didik. Rangkaian proses ini harus direalisasikan di dalam kelas dengan menerapkan beberapa teknik, salah satu diantaranya adalah teknik pemecahan masalah (problem solving).

Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah (problem solving) terkait dengan penerapan konsep-konsep materi ajar dalam kehidupan, sehingga proses pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana memecahkan masalah juga mengalami kendala. Pembelajaran matematika yang berorientasi pada jawaban akhir sebagai tujuan problem solving menyebabkan kesulitan tersebut muncul. Oleh karena itu guru sebaiknya merubah paradigma tersebut dengan menekankan pada bagaimana proses problem solving dilakukan peserta didik dengan tidak menekankan pada tujuan akhir. Bagaimana proses problem solving sangat mendasar dan penting. Melalui proses tersebut peserta didik akan belajar dan terbiasa berpikir bagaimana meyelesaikan masalah yang ada.

Problem solving dalam pembelajaran matematika berbentuk masalah terkait penerapan konsep-konsep bahan ajar yang dialami siswa dalam kehidupan. Problem solving  diharapkan dapat meningkatkan knowledge, afektif dan psikomotor peserta didik dalam belajar matematika. Pengalaman belajar melalui problem solving dapat memberi gambaran tentang bagaimana minat menjadi pendorong untuk menguasai pengetahuan yang layak dan  menimbulkan keingintahuan, kepercayaan diri dan keterbukaan pikiran bagi peserta didik. Tugas guru adalah membantu mengembangkan kemampuan peserta didik agar knowledge, afektif dan psikomotor dapat berkembang dengan baik sehingga mereka mampu menerapkan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari melalui problem solving.

  1. Pembahasan
    • Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Problem solving adalah satu pengolahan kognitif penting yang terjadi selama proses pembelajaran, dan mengacu pada usaha orang untuk mencapai tujuan karena mereka tidak memiliki solusi otomatis dan banyak pakar toeri pembelajaran yang menganggap bahwa problem solving adalah proses kunci dalam pembelajaran, khususnya pada matematika dan sains (Schunk, 2012:416). problem solving mengacu pada pemrosesan kognitif yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan ketika peserta didik dihadapkan masalah yang pada awalnya belum diketahui metode solusi pemecahannya secara langsung.

Munculnya masalah adalah ketika peserta didik memiliki tujuan tetapi tidak tahu bagaimana mencapainya. Masalah dapat diklasifikasikan sebagai masalah rutin atau tidak rutin. Masalah dalam bentuk penerapan konsep dalam kehidupan termasuk dalam masalah tidak rutin. Problem solving adalah pendekatan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan maslah tidak rutin. Sehungga masalah tidak rutin berguna untuk: (1) mendorong peserta didik berpikir logis, (2) memperkuat pemahaman tentang konsep, dan (3) mengembangkan strategi pemecahan masalah yang dapat diterapkan pada situasi lain.

Problem solving tidak terjadi apabila peserta didik mempunyai kemampuan tinggi untuk menyelesaikan masalah yang memungkinkan mereka secara otomatis dapat melakukan aktivitas problem solving untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu tidak semua aktivitas pembelajaran termasuk problem solving. Problem solving dapat dilakukan melalui beberapa cara misalnya: trial-and-rror (ujia coba), pemahaman dan heuristika (Schunk, 2012:417).

Uji coba kadang-kadang tidak efektif, karean jika tidak berhasil maka hanya  membuang-buang waktu. Pemahaman sering menimbulkan kesadaran secara tiba-tiba dalam menemukan solusi. Hasil penelitian Wallas (1921) dalam (schunk, 418) menemukan bahwa orang yang mampu memecahkan masalah dengan hebat mempformulasikan model dengan empat tahap yaitu: (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) ilumunasi, dan (verifikasi). Tahap persiapan adalah waktu untuk mempelajari masalah dan mengumpulkan informasi yang mungkin sesuai dengan solusi. Tahap inkubasi adalah masa memikirkan masalah, dapat  berbentuk pembatasan masalah untuk sementara. Tahap iluminasi adalah masa perenungan apabila ada solusi yang mungkin muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran. Tahap verifikasi adalah masa untuk menguji solusi yang ada untuk memastikan kebenarannya.

Heuristika adalah cara pemecahan masalah dengan menggunakan prinsip-prinsip yang biasanya menghasilkan solusi. Prinsip mental Polya (1945/1957) termasuk di dalamnya (Shcunk, 2012:420) adalah: (1) memahami masalah, (2) merancang rencana, (3) menjalankan rencana, dan melihat kembali. Bertanya “apa yang tidak diketahui”? dan “apa yang ditanya”? membantu untuk mamahami masalah dan menampilkan informasi yang diberikan. Mencoba menemukan hubungan antara data yang diketahui dengan data yang diketahui adalah bagian dari merancang rencana. Menjalankan rencana dengan memecah masalah menjadi sub-sub tujuan sangat bermanfaat karena memikirkan yang sama dan bagaimana menyelesaikannya, memeriksa setiap kebenaran tahapan pelaksanaan. Memeriksa kembali untuk memastikan apakah sudah benar?.

Bentuk heuristika lain dikemukakan oleh Bransford dan Stein (1984) dalam Shcunk, 2012:421) dikemal dengan IDEAL, yaitu: (1) Identify (mengidentifikasi) maslah, (2) Define (mendefinisikan) dan menampilkan masalah, (3) Act (melaksanakan) strategi, dan (4) Look back (melihat kemnbali) dan mengevaluasi pengaruh aktivitas Anda. Heuristika umum akan bermanfaat jika dilakukan pada konten yang tidak dikenal dan akan menjadi tidak efektif pada konten yang sudah diketahui karena kemapuan yang spesifik berimbang, akibatnya peserta didik menggunakan pengetahuan prosedural yang ada. Fleksibilitas heuristika akan dapat dilihat dalam hal bagaimana langkah-langkah itu dijalankan.

Implikasi hubungan antara problem solving dan pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik dapat mempelajari heuristika dan strategi untuk menjadi pemecah masalah yang handal, Bruning, et al,. (2004) dalam (Schunk, 2012:437). Untuk melatih kemampuan pemecahan masalah peserta didik, Andre (1986) dalam (Schunk, 2012:438) memberikan sepuluh saran yang mewakili produksi dalam memori, diambil dari teori dan hasil penelitian yaitu: (1) memberikan reprensentasi metafora pada siswa, (2) Meminta siswa membuat pernyataan selama pemecahan masalah, (3) menggunakan pertanyaan, (4) Berikan contoh, (5) koordinasikan ide, (6) gunakan pembelajaran penemuan, (7) berikan deskripsi verbal, (8) ajarkan strategi belajar, (9) gunakan kelompok kecil, dan (10) mempertahankan iklim psikologi positif.

  • Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika

Pemecahan masalah (problem solving) dalam matematika adalah suatu proses kognitif yang kompleks untuk mengatasi suatu masalah dan memerlukan  sejumlah strategi dalam menyelesaikannya (Surya, 2011). Melalui Problem solving dalam matematika peserta didik akan memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan masalah yang tidak rutin (tidak biasa) dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif mereka. Masalah matematika tidak rutin yang dimaksud adalah masalah matematika yang terkait dengan penerapan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Penyelesaian masalah rutin memerlukan tingkat pemikiran matematika yang tinggi. Sementara penyelesaian masalah rutin (biasa) hanya mengikuti aturan (algoritma) dengan menghafal.

Pendekatan pembelajaran problem solving dalam matematika tidak hanya mengarahkan peserta didik untuk mampu menyelsaikan masalah matematika rutin dengan proses pembelajaran yang biasa, akan tetapi diharapkan agar mampu menyelesaikan masalah yang tidak rutin dengan proses pembelajaran yang mendukung. Pendekatan problem solving ini dapat menjadi tempat berlatih bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menemukan pola, mengenerasikan, dan komunikasi matematis, berpikir rasional, cermat, kritis, jujur, efektif dan logis.

Kemampuan tersebut mendukung tercapainya tujuan kurikulum matematika sekolah yakni perserta didik mampu menghadapi perkembangan dunia yang semakin tidak terbendung.  Pembelajaran dengan pendekatan problem solving merupakan strategi dalam proses pembelajaran matematika yang sangat penting dan diperlukan oleh peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika terkait dengan penerapan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Nampak bahwa fokus penting pembelajaran matamatika adalah pendekatan problem solving sebagaimana yang terantum pada kurikulum mata pelajaran matematika jenjang SD/MI. SMP/MTs SMA/MA dan SMK. Hal ini dapat dilihat dalam setiap Kompetensi Dasar (KD) terdapat topik bahasan yang mengarahkan siswa untuk mampu menerapkan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan konsep-konsep matematika pada pemecahan masalah tentu memerlukan kemampuan berpikir matematis yang tinggi.

Problem solving dalam pembelajaran matematika difokuskan pada pembelajaran topik matematika melalui konteks problem solving dan lingkungan yang berorientasi pada kemampuan peserta didik dan membantu guru membangun pemahaman mendalam tentang gagasan dan proses matematika dengan melibatkan peserta didik dalam aktivitas matematika: menciptakan, menduga, mengeksplorasi, menguji, dan verifikasi (Lester et al., 1994) Beberapa pendapat tentang karakteristik spesifik dalam problem solving matematika antara lain:

  • Van Zoest et al., (1994), karekteristik problem solving adalah:
  • Interaksi antara siswa dengan siswa dan intersksi antara guru dan siswa.
  • Dialog matematika dan konsensus antara siswa.
  • Cobb et al., (1991), karekteristik problem solving adalah:
  • Guru memberikan informasi yang cukup untuk menetapkan latar belakang/tujuan dari masalah, dan siswa mengklarifikasi, menafsirkan, dan mencoba untuk membangun satu atau lebih proses solusi.
  • Guru menerima jawaban yang benar / salah dengan cara yang tidak evaluatif
  • Lester et al., (1994), karekteristik problem solving adalah:
  • Guru membimbing, melatih, mengajukan pertanyaan dan sharing yang mendalam dalam proses pemecahan masalah
  • Guru mengetahui kapan tepat untuk melakukan intervensi, dan kapan harus melangkah mundur dan membiarkan murid membuat jalan mereka sendiri.
  • Evan dan Lappin, (1994), karekteristik problem solving adalah:
  • Pendekatan pemecahan masalah dapat digunakan untuk mendorong siswa membuat generalisasi tentang peraturan dan konsep, sebuah proses yang penting bagi matematika.

Problem solving adalah komponen penting dalam pendidikan matematika karena berperan sebagai  media (kendaraan) untuk mencapai nilai matematika pada aspek: fungsional, logis dan estetis yang dapat dicapai di tingkat sekolah. Matematika adalah disiplin ilmu yang esensial karena mempunyai peran praktis bagi individu dan masyarakat. Aspek matematika tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan Problem solving. Mengembangkan keterampilan yang diperlukan peserta didik untuk memecahkanmasalah dapat dilakukan dengan memberikan sebuah masalah yang dapat memberi motivasi dibandingkan dengan mengajarkan keterampilan tanpa konteks. Motivasi tersebut memberikan nilai khusus problem solving sebagai wadah untuk mempelajari konsep dan keterampilan baru atau penguatan keterampilan yang telah diperoleh (Stanic dan Kilpatrick, 1989, NCTM, 1989). Selanjutnya NCTM, (1980) merekomendasikan bahwa problem solving menjadi fokus pembelajaran matematika karena, mencakup bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Problem solving harus mencakup semua aspek pembelajaran matematika untuk memberi pengalaman tentang kekuatan matematika kepada peserta didik dalam upaya membangun, mengevaluasi dan memperbaiki teori mereka sendiri tentang matematika dan teori orang lain.

Nampaknya pemdekatan problem solving berkontribusi pada penggunaan praktis matematika antara lain; (1) membantu mengembangkan fasilitas agar mudah beradaptas, (2)  membantu untuk pindah ke lingkungan kerja baru, dan (3) mempersiapkan peserta didik menjadi  pelajar adaptif yang baik, untuk bekerja dengan efektif ketika tuntutan tugas berubah. Dengan demikian, maka tidaklah berlebihan apabila ada ungkapan bahwa kemampuan keterampilan problem solving adalah jantungnya matematika karena dapat digunakan pada berbagai situasi yang tidak biasa.

Melalui pendekatan problem solving ini pula peserta didik dapat memilih proses deduksi logis algoritma jika situasi memerlukan, dan kadang-kadang perlu mengembangkan aturan mereka sendiri apabila situasi algoritma tidak dapat langsung diterapkan, sehingga problem solving dapat dikembangkan sebagai keterampilan berharga dalam diri peserta didik, bukan hanya sebagai alat untuk  menemukan jawaban yang benar. Penekanan pendekatan problem sovling penting sebagai alat untuk mengembangkan aspek pemikiran logis matematika, dan mendorong individu untuk mendapatkan pengetahuan baru, karena matematika standar, dengan penekanan pada perolehan pengetahuan, tidak selalu memenuhi kebutuhan. Selain itu  teknik problem sovling dianggap sangat penting sebagai bentuk estetika karena memungkinkan peserta didik untuk mengalami berbagai emosi dalam tahap-tahap proses menemukan solusi masalah.

NTCM (1980 dan 1989) merekomendasikan agar kurikulum matematika disusun berorientasi pada pemecahan masalah, dengan fokus sebagai berikut:

  • Mengembangkan keterampilan dan kemampuan untuk menerapkan keterampilan ini ke situasi yang tidak biasa.
  • Mengumpulkan, mengorganisir, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi.
  • Merumuskan pertanyaan kunci, menganalisis dan mengkonseptualisasikan masalah, menentukan masalah dan sasaran, menemukan pola dan persamaan, mencari data yang sesuai, bereksperimen, mentransfer keterampilan dan strategi ke situasi baru.
  • Mengembangkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri dan keterbukaan pikiran.

Problem solving dalam pembelajaran bertujuan untuk : (1) mendorong peserta didik untuk memperbaiki dan membangun proses kognitif mereka sendiri, dan (2) mengembangkan pengetahuan peserta didik, dan (3) mengembangkan pemahaman kapan waktu yang tepat untuk menggunakan strategi tertentu, dan (4) membuat peserta didik lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri daripada membiarkan mereka merasa bahwa algoritma yang mereka gunakan adalah penemuan beberapa ahli dan tidak dipahami. Terkait dengan tujuan tersebut peserta didik terlibat secara aktif dalam problem solving dengan merumuskan dan memecahkan masalah mereka sendiri, dan juga menulis ulang masalah dengan kata-kata mereka sendiri dalam rangka untuk memudahkan pemahaman. Penting untuk dicatat bahwa melalui teknik problem solving peserta didik mendapat dorongan terkait dengan proses yang sedang mereka lakukan sebagau upaya untuk memperbaiki pemahaman, menemukan wawasan baru tentang masalah dan mengkomunikasikan gagasan mereka.

  • Penerapan Problem Solving dalam pembelajaran Matematika

Pembelajaran  melalui problem solving tentu  dimulai dengan sebuah masalah. Peserta didik belajar dan memahami aspek penting dari konsep atau ide dengan mengeksplorasi situasi masalah. Masalah yang digunakan cenderung lebih terbuka dan memungkinkan beberapa jawaban yang benar dan beberapa pendekatan solusi. Dalam mengajar melalui pemecahan masalah, masalah tidak hanya berokus pada rangsangan untuk belajar siswa, tapi juga berfungsi untuk eksplorasi matematika. Siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran dengan mengeksplorasi  dan menemukan strategi solusi mereka sendiri, karena eksplorasi masalah merupakan komponen penting dalam pengajaran melalui pemecahan masalah.

Dibawah ini beberapa contoh penerapan problem solving dalam pembelajaran matematika;

Masalah 1

  • Rata-rata nilai tes sepuluh orang peserta didik adalah 78. Skor paling atas dan bawah yaitu 65 dan 95 dibuang oleh guru. Berapakah rata-rata sisa nilai yang tersisa?

Solusi peserta didik:

10 – 2 = 8

(95 + 65) = 160

160 : 10 = 16

78 – 16 = 62

62 x 10 = 620

620 : 8 = 77,5

            Jadi rata-rata sisa nilai setelah nilai atas dan bawah dibuang adalah, 77,5.

Deskripsi dari Solusi:

  • Peserta didik pertama kali menggunakan salah satu sifat rata-rata dan menentukan bahwa sisa peserta didik adalah 8 (diperoleh dari 10-2). Sehingga ada 8 nilai harus ada diantara 65 dan 95. Kemudian peserta didik membuat deretan sepuluh lingkaran, dengan meletakkan angka 95 di nomor pertama dan 65 di terakhir, 8 lingkaran lainnya dibiarkan kosong. Dengan menggunakan pendekatan modifikasi pembagian, peserta didik menyadari bahwa 65 dan 95 memberikan kontribusi 16 terhadap rata-rata   yaitu [(95 + 65) : 10] = 16. Selanjutnya peserta didik mengatakan bahwa masing-masing dari 8 lingkaran  kosong harus didapat 16. Tetapi karena 16 adalah 62 kurangnya dari 78 (16 adalah rata-rata untuk sepuluh nilai), peserta didik tersebut kemudian melakukan operasi perkalian 10 dengan 62 dan mendapat hasil 620. Selanjutnya 620 kemudian dibagi oleh 8 dan  mendapatkan 77,5. Jadi rata-rata  nilai yang tersisa setelah nilai atas dan bawah dibuang adalah 77,5.
  • Dalam solusi ini, peserta didik memiliki kata kunci yaitu membuang bagian atas dan bawah saat mengambil 16 dari masing-masing nilai lainnya. Dengan menemukan pendekatan ini, peserta didik tersbut telah menunjukkan pemahaman yang luar biasa tentang rata-rata. Peserta didik telah mampu menghubungkan pengetahuan awal yang telah ada dalam struktur kognitf mereka, namun demikian peserta didik masih harus diarahkan untuk mengembangkan strategi yang lebih efisien.

Nampak jelas bahwa peserta didik mampu menciptakan strategi mereka sendiri menyelesaikan masalah. Dalam pembelajara ini peserta didik diberi kesempatan untuk mendiskusikan strategi alternatif untuk menyelesaikan masalah sebelum proses penyelesaian masalah berlangsung.  Pertanyaannya adalah:

  • Bagaimana perserta didik belajar menggunakan strategi yang ada sebelum ada instruksi yang terjadi?
  • Bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik untuk menciptakan strategi yang masuk akal?

Jawaban yang mungkin dari pertanyaan ini adalah:

Prosedur yang diciptakan peserta didik bersumber dari kedalaman intuisi dan cara berpikir alami mereka. Selanjutnya perlu mengkaji lebih jauh tentang bagaimana cara berpikir alami peserta didik dalam problem solving matematika.

Masalah 2

  • Satu karung beras mempunyai berat 240 kg. Untuk menyamakan berat satu karung beras dengan beberapa orang, berapa orangkah yang diperlukan?.

Beberapa Solusi peserta didik:

  1. 240 : 6 =  40

Kerena 6 x 40 = 240

Jadi ada 6 orang dengan berat badan masing-masing 40 kg

  1. 240 : 8 = 30

Karena 8 x 30 = 240

Jadi, ada 8 orang dengan berat masing-masing 30 kg

  1. 3 orang beratnya 20 kg dan 6 orang beratnya 30 kg.

(3 x 20) + (6 x 30)

 = 60 + 180

 = 240.

  1. (2 x 5) + (10 x 23) = 10 + 230 = 240

Jadi, ada 2 orang beratnya 5 kg dan 10 orang beratnya 23 kg.

Misalkan:

x = berat badan orang I

 y = berat badan orang II

 x = 5 dan y = 10

berapa kali 5 ditambah dengan berapa kali 10 menghasilkan 240.

Jadi, dapat ditulis: 2x  + 10y  = 240

Deskripsi solusi peserta didik:

  • Masalah ini adalah mempunyai banyak solusi (open ended). Sehingga solusi no. 1 dan no.2 di atas adalah benar, apabila memisalkan semua orang yang dimaksud mempunyai berat yang sama. Sehingga penyelesaiannya langsung menggunakan konsep pembagian biasa (algoritma pembagian). Peserta didik memanfaatkan pengetahuan yang telah tersimpan dalam struktur kognitif mereka terkait dengan operasi bilangan positif dan menggunakannya dalam penyelesaian masalah. Masih ada realitas lain yang dapat menjadi pemecahan. Bagaimana kalau berat yang dimaksud ada yang sama dan digabung dengan berat yang tidak sama?. Solusi no.3 dan no 4 adalah contohnya penyelesaian yang memenuhi. Penyelesaiannya memerlukan langkah-langkah, dan akan diperoleh banyak solusi. Kemampuan peserta didik dalam mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki menunjukkan kemampuan mereka dalam problem solving.
  • Dalam hal ini peserta didik dengan solusi no.3 dan no.4 telah menggunakannya. Peserta didik telah melakukan pemrosesan informasi dalam menyelsaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang tersimpan dalam struktur kognitif mareka. Sehingga mereka mampu melakukan investigasi, membuat model matematika, lalu mendapatkan keputusan.

Pemecahan masalah 2 di atas menggunakan konsep-konsep pada bilangan dengan opeasi penjumlahan,  pembagian, perkalian, dan aljabar dalam bentuk model matematika dengan persamaan matematika terbuka. Karena masalah 2 di atas adalah masalah dengan solusi banyak (open ended) maka  penyelesaian yang mungkin tergantung pada kemampuan intelektual dan pengalaman peserta didik. Kemapuan komunikasi matematis dan kreatif yang  produktif dalam mengambil keputusan tentu sangat diperlukan dalam problem solving. Problem solving melalui pendekatan open ended  sangat diperlukan  sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik dalam pembelajaran matematika.  Pendekatan open ended akan merangsang peserta didik untuk berlatih secara individu dalam rangka mengembangkan kompetensi tanpa ikut-ikutan dengan jawaban temannya.

  1. Penutup

Metode pembelajaran, dengan menghafal dan membaca fakta, peraturan, dan prosedur, dengan penekanan pada penerapan prosedur yang dilatih untuk menyelesaikan masalah rutin (biasa) adalah kurang memadai. Pembelajaran dengan pendekatan problem solving terjadi ketika proses kegiatan pemecahan masalah dilakukan peserta didik berlangsung. Artinya proses pembelajaran berlangsung selama proses pemecahan masalah berjalan, dimana peserta didik bebas menggunakan pendekatan sesuai dengan pikirkan masing-masing, dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah mereka pelajari, dan membenarkan gagasan mereka sesuai apa yang diyakini. Lingkungan pembelajaran melalui pendekatan problem solving memberikan kesempatan bagi peserta didik menyajikan berbagai solusi, berbagi kepada kelompok atau kelas dan belajar matematika melalui interaksi sosial, bernegosiasi, untuk mencapai pemahaman bersama. Kegiatan seperti itu membantu peserta didik melakukan klarifikasi gagasan dan mendapatkan perspektif konsep belajar yang berbeda.

Pendekatan pemecahan masalah (problem solving) dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pendidikan matematika tidak hanya sebagai sebuah metode atau jalan

untuk mengembangkan pemikiran logis, akan tetapi problem solving juga dapat : (1) memberi konteks pengetahuan matematika bagi peserta didik, (2) meningkatkan proses transfer keterampilan pada situasi yang tidak rutin, (3) merupakam bentuk estetika dalam diri peserta didik. dan (4) memberi tempat (ruang) kepada peserta didik untuk membuat gagasan sendiri tentang matematika dan untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.

Pendekatan problem solving merupkan tantangan bagi para guru, pada semua jenjang sebagai upaya untuk mengembangkan proses pemikiran matematis dan pengetahuan matematika peserta didik. Guru dituntut untuk menggunakan problem solving dengan  menyajikan masalah matematika tidak rutin dalam konteks pemecahan masalah. Diharapkan penyajian masalah mengacu pada bentuk open ended. Berikut ini adalah jenis-jenis masalah yang dihadapi peserta didik dan memerlukan problem solving dalam menyeleseaikannya.

  • Masalah kata, dimana konsepnya tertanam dalam situasi dunia nyata dan siswa diharuskan untuk mengenali dan menerapkan algoritma / aturan yang sesuai. (mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan hidup)
  • Masalah non rutin yang memerlukan tingkat interpretasi dan pengorganisasian informasi yang lebih tinggi dalam masalah, bukan hanya pengenalan dan penerapan algoritma (mendorong pengembangan pengetahuan umum dan akal sehat)
  • Masalah “nyata”, berkaitan dengan menyelidiki masalah yang nyata bagi siswa, tidak harus memiliki solusi tetap, dan menggunakan matematika sebagai alat untuk menemukan solusi (melibatkan murid dalam pelayanan kepada masyarakat).

REFERENSI

Edy Surya, (2011). Visual Thinking and Mathematical Problem Solving of the Nation Character Development, Department of Mathematics Education, Yogyakarta State University Yogyakarta, July 21‐23,2011.

National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) (1980). An Agenda for Action: Recommendations for School Mathematics of the 1980s, Reston, Virginia: NCTM.

Polya, G. (1980). ‘On solving mathematical problems in high school’. In S. Krulik (Ed). Problem Solving in School Mathematics, (pp.1-2). Reston, Virginia: NCTM.

Schoenfeld, A. (1994). Reflections on doing and teaching mathematics. In A. Schoenfeld (Ed.). Mathematical Thinking and Problem Solving. (pp. 53-69). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

Schunk, D. H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective sixth edition. Diterjemahkan oleh : Eva Hamdiah dan Rahmat Fajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Stanic, G. and Kilpatrick, J. (1989). ‘Historical perspectives on problem solving in the mathematics curriculum’. In R.I. Charles and E.A. Silver (Eds), The Teaching and Assessing of Mathematical Problem Solving, (pp.1-22). USA: National Council of Teachers of Mathematics. 

Iklan
Dipublikasi di Diskusi, Matematikakuyess, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Kemandirian Belajar Siswa

  1. Pengertian Kemandirian Belajar (Self-Regulated Learning)

Dalam (http://kbbi.web.id/ajar) pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, dan dalam pengertian lain belajar adalah berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Slameto (2003: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat lain dikemukakan oleh  Sardiman (2007: 20) bahwa belajar pada hakekatnya adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan baru, dalam bentuk sikap dan nilai yang positif. Sedangkan menurut Sudjana (2007: 45) belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek dan latihan.

Dalam (http://kbbi.web.id/mandiri) mandiri adalah dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain, sedangkan kemandirian adalah  keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Menurut Eddy Wibowo (1992:69). Kemandirian diartikan sebagai tingkat perkembangan seseorang dimana ia mampu berdiri sendiri dan mengandalkan kelampuan dirinya sendiri dalam melakukan berbagai kegiatan dan menyelesaiakan berbagai masalah yang dihadapi.

Ada beberapa pengertian tentang kemandirian belajar yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:

  1. Hargies (2000) mendefinisikan keamdirian belajar sebagai kemampuan memantau perilaku sendiri, dan merupakan kerja-keras personaliti manusia,
  2. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (2003:13) mengemukakan bahwa kemandirian  belajar  adalah  belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara.
  3. Steinberg  (dalam Aspin  (2007:12)   juga   menyatakan   bahwa   siswa   yang memperoleh kemandirian merupakan siswa yang dapat memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri secara bertanggung jawab, meskipun tidak ada pengawasan dari orang tua maupun guru dalam aktifitas belajar demi mendapatkan nilai dan prestasi yang memuaskan bagi diri dan orang tua.
  4. Desi Susilawati (2009:7-8) mendiskripsikan bahwa kemandirian belajar dapat diartikan sebagai berikut: (1) Siswa berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan, (2) Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajara,  (3) Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain, (4) Pembelajaran mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi, (5) Siswa yang belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan kegiatan korespondensi, (6) Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan seperti berdialog dengan siswa, mencari sumber, mengevaluasi hasil dan mengembangkan berfikir kritis, dan (7) Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang dalam menujudkan keinginannya tanpa bergantung kepada orang lain. Kemandirian belajar atau belajar mandiri adalah sikap mengarah pada kesadaran belajar sendiri dan segala keputusan, pertimbangan yang berhubungan dengan kegiatan belajar diusahakan sendiri sehingga bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajar tersebut. Belajar mandiri adalah kondisi aktifitas belajar yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, memiliki kemauan serta bertanggung jawab sendiri dalam menyelesaikan masalah belajarnya. Belajar mandiri adalah proses menggerakkan kekuatan dari dalam diri seorang individu untuk mempelajari suatu objek tanpa adanya pengaruh dari luar. Kemandirian belajar akan terwujud apabila siswa aktif mengontrol sendiri segala sesuatu yang dikerjakan, mengevaluasi dan selanjutnya merencanakan sesuatu yang lebih dalam pembelajaran yang dilalui dan siswa juga mau aktif dalam proses pembelajaran.  Kemandirian belajar dapat dianggap sebagai cara belajar yang berdasarkan pada aktivitas diri bukan aktivitas yang dikendalikan.

Schunk dan Zimmerman (1998), merinci kegiatan yang berlangsung pada tiap phase kemandirian be[alajr sebagai berikut:

  1. Phase merancang belajar berlangsung kegiatan: menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan belajar, dan merancang strategi belajar.
  2. Phase memantau berlangsung kegiatan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri:
    • Apakah strategi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana?
    • Apakah saya kembali kepada kebiasaan lama?
    • Apakah saya tetap memusatkan diri? dan
    • Apakah strategi telah berjalan dengan baik?
  3. Phase mengevaluasi, memuat kegiatan memeriksa bagaimana jalannya strategi:
    • Apakah strategi telah dilaksanakan dengan baik? (evaluasi proses);
    • Hasil belajar apa yang telah dicapai? (evaluasi produk); dan
    • Sesuaikah strategi dengan jenis tugas belajar yang dihadapi?
  4. Phase merefleksi: Pada dasarnya phase ini tidak hanya berlangsung pada phase keempat dalam siklus kemandirian belajar (self regulated learning), namun refleksi berlangsung pada tiap phase selama silkus berjalan.
  1. Ciri-ciri Kemandirian Belajar

Ciri-ciri kemandirian pada dasarnya sangatlah luas dan tingkat kemandiriannya juga sangat beragam sesuai dengan tingkat usia.

Menurut  Hiemstra (1991), ada beberapa ciri – ciri dari kemandirian belajar. Ciri – ciri tersebut adalah:

  1. Pelajar mempunyai tanggung jawab dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan usaha pembelajaran,
  2. Belajar mandiri merupakan karakteristik yang dapat digunakan setiap individu dalam setiap situasi,
  3. Belajar mandiri bukan mengisolasi diri individu dengan orang lain d. Individu yang mempunyai kemandirian belajar mampu untuk “transfer learning”, baik pengetahuan maupun keahlian (skill) dari satu situasi ke situasi yang lain seperti berpartisipasi dalam grup, latihan – latihan, dialog secara elektronik, dan aktifitas – aktifitas menulis,
  4. Peran efektif dari  guru  di  dalam belajar mandiri terjadi, seperti melakukan dialog  dengan pelajar,  melihat sumber pengetahuan yang aman, berpikir secara kritis, dan mengevaluasi hasil yang ada.
  5. Beberapa institusi pendidikan menemukan cara yang dapat mendukung kemandirian belajar seperti program pendidikan terbuka, pemilihan pendidikan bagi individu, dan program inovasi lainnya.

Pao-Chou dan Wei-Fan Chen (http://www.setlab.net/?view=chou-article) mengemukakan bahwa karakter siswa yang memiliki kemandirian belajar adalah:

  1. Self-directed learners are fully responsible people who can independently analyze, plan, execute, and evaluate their own learning activities,
  2. Self-management. Self-directed learners can identify what they need during the learning process, set individualized learning goals, control their own time and effort for learning, and arrange feedbacks for their work,
  3. Desire for learning. For the purpose of knowledge acquisition, self-directed learners’ motivations for learning are extremely strong,
  4. Problem-solving. In order to achieve the best learning outcomes, self-directed learners make use of existing learning resources and feasible learning strategies to overcome the difficulties which occur in the learning process.

Terjemahan secara bebas dapat diartikan sebagai berikut:

  1. Siswa yang memiliki kemandirian belajar bertanggungjawab penuh serta   dapat   menganalisis,   merencanakan,  melaksanakan  dan mengevaluasi kegiatan belajarnya sendiri secara bebas,
  2. Managemen diri. Siswa yang memiliki kemandirian belajar dapat mengidentifikasi apa yang merek butuhkan selama proses belajar, menetapkan tujuan pembelajaran sendiri, mengontrol mereka sendiri dan berusaha untuk belajar dengan tekun, serta mengelola umpan balik atas apa yang telah mereka usahakan.
  3. Keinginan untuk belajar. Siswa yang memiliki kemandirian belajar memiliki motivasi yang kuat untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar,
  4. Memecahkan masalah. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang baik, siswa dapat mengarahkan diri dalam memanfaatkan sumber belajar yang ada dan menggunakan strategi belajar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam proses belajar.

Danuri (2010: 15) mengemukakan bahwa ada beberapa ciri-ciri kemandirian belajar yaitu: (1) Adanya tendensi untuk berperilaku bebas dan berinisiatif, bersikap, dan berpendapat, (2) Adanya tendensi untuk percaya diri, (3) Adanya sifat original (keaslian) dan bukan sekedar meniru orang lain,  dan (4) Adanya tendensi untuk mencoba diri. Sejalan dengan pendapat tersebut, Negoro (2008: 17) mengemukakan bahwa ciri-ciri kemandirian belajar adalah sebagai berikut : (1) Memiliki kebebasan untuk berinisiatif, (2) Memiliki rasa percaya diri, (3) Mampu mengambil keputusan, (4) Dapat bertanggung jawab, dan (5) Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Sardiman (2008:45) mengemukakan bahwa ciri-ciri kemandirian belajar adalah: (1) adanya kecenderungan untuk berpendapat, berperilaku dan bertindak atas kehendaknya sendiri, (2) memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan, (3) Membuat perencanaan dan berusaha dengan ulet dan tekun untuk mewujudkan harapan, (4) mampu untuk berfikir dan bertindak secara kreatif, penuh    inisiatif dan tidak sekedar meniru, (5) memiliki kecenderungan untuk mencapai kemajuan, yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar,  dan (6) mampu menemukan sendiri tentang sesuatu yang harus dilakukan tanpa mengharapkan bimbingan dan tanpa pengarahan orang lain.

Selanjutnya Desmita (2011: 185-188) mengatakan bahwa kemandirian belajar dapat dilihat dari beberapa ciri sebagai berikut: (1) mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi, (2) memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri, (3) bertanggungjawab atas apa yang dilakukan, (4) mampu melakukan kritik dan penilaian diri, dan  (5) memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya.

Berdasarkan uraian tentang ciri-ciri kemandirian belajar di atas, maka dapat dikemukakan bahwa kemandirian belajar dapat diwujudkan dalam bentuk antara lain: Memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, memiliki inisiatif, memiliki percaya diri, dapat mengambil keputusan, mempunyai kontrol diri yang kuat, mampu melakukan kritik dan penilaian diri, mampu menyesuaikan diri dengan lingkunngan, memiliki hasrat untuk bersaing, memiliki motivasi untuk belajar, mampu memecahkan masalah, dan kebebasan bertindak dan bersikap sesuai dengan nilai yang diajarkan.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar.

Beberapa pendapat tentang factor-faktor yang mempengaruhi kemandirian antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Ngalim Purwanto  (2006: 102)  mengemukakan  bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor individual dan faktor sosial. Faktor individual adalah faktor yang ada dalam diri individu. Faktor sosial adalah faktor yang ada di luar individu.
  2. Muhammad Nur Syam (dalam Endang Lestari, 2015), ada dua faktor yang mempengaruhi, kemandirian belajar yaitu sebagai berikut:
    1. Faktor internal dengan indikator tumbuhnya kemandirian belajar yang terpancar dalam fenomena antara lain: (i) sikap bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dipercayakan dan ditugaskan, (ii), kesadaran hak dan kewajiban siswa disiplin moral yaitu budi pekerti yang menjadi tingkah laku, (iii) kedewasaan diri mulai konsep diri, motivasi sampai berkembangnya pikiran, karsa, cipta dan karya (secara berangsur), (iii) kesadaran mengembangkan kesehatan dan kekuatan jasmani, rohani dengan makanan yang sehat, kebersihan dan olahraga, dan (iv)  disiplin diri dengan mematuhi tata tertib yang berlaku, sadar hak dan kewajiban, keselamatan lalu lintas, menghormati orang lain, dan melaksanakan kewajiban.
    2. Faktor eksternal sebagai pendorong kedewasaan dan kemandirian belajar meliputi: (i) potensi jasmani rohani yaitu tubuh yang sehat dan kuat, (ii) lingkungan hidup, dan sumber daya alam, (iii) sosial ekonomi, keamanan dan ketertiban yang mandiri, (iv) kondisi dan suasana keharmonisan dalam dinamika positif atau negatif sebagai peluang dan tantangan meliputi tatanan budaya dan sebagainya secara komulatif.
  3. Menurut Hasan Basri (1994:54) yaitu: kemandirian belajar siswa dipengaruhi dua faktor yaitu faktor di dalam dirinya sendiri (faktor endogen) dan faktor-faktor di luar dirinya sendiri (faktor eksogen). Faktor endogen (internal) adalah semua pengaruh yang bersumber dari dalam dirinya sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak dilahirkan dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Segala sesuatu yang dibawa sejak lahir adalah merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya. Bermacam-macam sifat dasar dari ayah dan ibu mungkin akan didapatkan didalam diri seseorang, seperti bakat, potensi intelektual dan potensi pertumbuhan tubuhnya. Faktor eksogen (eksternal) adalah semua keadaan atau pengaruh yang berasal dari luar dirinya, sering pula dinamakan dengan faktor lingkungan. Lingkungan kehidupan yang dihadapi individu sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, baik dalam segi negatif maupun positif. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik terutama dalam bidang nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, termasuk pula dalam hal kemandiriannya.
  4. Chabib Thoha (1996:124-125), faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dapat dibedakan dari dua arah, yakni :
  1. Faktor dari dalam diri anak adalah antara lain faktor kematangan usia, jenis kelamin dan inteligensi anak.
  2. Faktor dari luar yang mempengaruhi kemandirian anak adalah:
    1. Kebudayaan, masyarakat yang maju dan kompleks tuntutan hidupnya cenderung mendorong tumbuhnya kemandirian dibanding dengan masyarakat yang sederhana,
    2. Keluarga, meliputi aktivitas pendidikan dalam keluarga, kecenderungan cara mendidik anak, cara memberikan penilaian kepada anak, dan cara hidup orang tua.
  1. Muhammad Ali dan Muhammad Asrori (2002: 118-119) mengemukakan sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian, yaitu : (i) gen atau keturunan orang tua, (ii) pola asuh orang tua., (iii) sistem pendidikan di sekolah dan (iv) sistem kehidupan di masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat diwujudkan dalam bentuk antara lain: bertanggung jawab, kesadaran hak dan kewajiban, kedewasaan diri, kesadaran tentang kesehatan, disiplin diri, kematangan usia, integensi, jenis kelamin, dan lain-lain. Faktor eksternal dapat diwujutkan dalam bentuk antara lain: kesehatan, lingkungan hidup, sumber daya alam, sosial ekonomi, keamanan, ketertiban yang mandiri, keluarga, sestem pendidika di sekolah, system social di masyarakat, dan lain-lain.

4. Variabel dan Indikator

Berdasarkan ciri-ciri kemandirian belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar yang telah diuraikan di atas, maka variabel –variabel dalam tulisan ini adalah: (i) faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal dan (ii) kemandirian belajar. Indikator dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut:

         a) Indikator kemandirian belajar terdiri dari lima aspek yaitu:

  1. Mampu memecahkan masalah,
  2. Memiliki Inisiatif,
  3. Memilik Tanggung jawab,
  4. Memilik Motivasi,
  5. Memiliki Percaya diri.

b) Indikator faktor internal dalam tukisan ini terdiri dari empat aspek yaitu:

  1. Sikap bertanggung jawab,
  2. Kesadaran hak dan kewajiban
  3. Kedewasaan diri
  4. Disiplin diri

c) Indikator faktor eksternal dalam tulisan ini terdiri dari tiga aspek yaitu:

  1. Kesehatan,
  2. Lingkungan hidup,
  3. Sosial ekonomi.

Ciri- ciri kemandirian belajar adalah variabel laten endogen dengan kode Y dan indicator dengan kode Y1, Y2, Y3, Y4 dan Y5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar adalah variabel laten eksogen dengan kode X1 dan X2 selanjutnya indikator dari variabel  X1 dengan kode X11, X12, X13, dan X14 dan indikator dari variabel X2 dengan kode X21, X22, dan X23. Rangkumannya dapat dilihat tabel di bawah ini.

Tabel 1.2  Variabel Laten dan Indikator

Variabel Laten

Kode

Indikator

Eksogen Faktor Internal (X1)

X11

X12

X13

X14

Sikap bertanggung jawab

Kesadaran hak dan kewajiban

Kedewasaan diri

Disiplin diri

Faktor  Eksternal (X2)

X21

X22

X23

Kesehatan

Lingkungan hidup

Sosial ekonomi

Endogen Kemandirian Belajar Siswa (Y)

Y1

Y2

Y3

Y4

Y5

Mampu memecahkan masalah,

Memiliki Inisiatif,

Memilik Tanggung jawab,

Memilik Motivasi

Memiliki Percaya diri

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

TUGAS MAHASISWA SEMESTER VI

Download Tugas Penilaian Pembelajaran Matematika Klik DI SINI

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , | Meninggalkan komentar

TUGAS MAHASISWA MATA KULIAH ALJABR

Download tugas klik dibawah:

TUGAS MAHASISWA MATA KULIAH ALJABAR

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

LAPORAN PTK (Makalah)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE  THINK  PAIR  SQUARE  SHARE DALAM MENINGKATKAN  KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

Salamia, M.Si

MTs.Negeri 1 Balikpapan, Jln Jend.Ahmad Yani RT 61 No.19 Balikpapan, Kota Balikpapan

salamia4479@gmail.com

Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini menerapkan model pembelajaran kooperatif  tipe Think Pair Square Share (TPSS) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan hasil belajar matematika yang dilakukan di kelas IX-3 MTs. Negeri 1 Balikpapan semester 1 (gasal) tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian terlaksana dalam dua siklus dan terdiri dari enam kali pertemuan. Aktivitas komunikasi matematis siswa diamati pada tahap think, tahap pair, tahap square dan tahap share. Instrumen penelitian adalah lembar observasi, angket, tes dan dokumentasi. Hasil analisis data sebagai berikut: (a) rata-rata persentase data angket aktivitas komunikasi matematis siswa pada siklus I adalah 66.8%  meningkat menjadi 73,5% pada siklus II, (b) rata-rata persentase data angket respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPSS pada siklus I adalah 64,6% meningkat menjadi 74,7% pada siklus II, (c)  nilai rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematis siswa pada siklus I adalah 64.89  meningkat menjadi 84.44 pada siklus II, dan (c) nilai rata-rata hasil belajar adalah 64.64 pada siklus I meningkat menjadi 82.7 pada siklus II. (2). Kesimpulannya adalah kemampuan komunikasi matematis siswa kelas IX-3 dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPSS. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa model pembelajaran kooperatif  tipe TPSS adalah salah satu altematif model pembelajaran matematika di kelas.

Kata Kunci. Think Pair Square SShare, komunikasi matematis, hasil belajar.

Makalah ini  telah diseminarkan padaa Seminar Nasional Pendidikan Matematika  (Sendimat III) di P4TK Matematika Yogyakarta tanggal 11-12 November 2015.

Dipublikasi di LAPORAN PTK, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

TESTIMONI MENGIKUTI DOGMIT INDONESIA

Sering sekali kita membaca di berbagai media, buku baik online maupun offline penjelasan tentang fungsi, peran, dan kedudukan guru dalam pendidikan. Dari beberapa penjelasan selalu disebutkan bahwa guru adalah salah satu penentu keberhasilan dalam mewujudkan visi pendidikan yang telah dicanangkan oleh pemerintah yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Sebagai konsekuensi dari peranan yang sangat besar ini menjadi tuntutan bagi semua guru di Indonesia untuk selalu menambah dan memperbarui wawasan dan kompetensinya secara terus menerus.

Peningkatan kompetensi ini sangatlah diperlukan agar semua guru di Indonesia menjadi guru yang profesional sehingga mampu mengikuti perubahan serta perkembangan zaman. Jabatan guru sebagai profesi tentunya memerlukan pembinaan dan pengembangan secara berkelanjutan. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dari pemerintah diharapkan menjadi salah satu sistem yang dinilai akan dapat membantu mewujudkan terbentuknya guru-guru profesional. Program PKB termasuk di dalamnya adalah Diklat Fungsional baik secara langsung (tatap muka) maupun Diklat Online.

Behubungan dengan pengembangan profesi guru melalui diklat, selama ini pelaksanaannya dilakukan oleh beberapa lembaga yang telah ditunjuk dan diakui. Namun, jika ditinjau dari jumlah guru yang harus mengikuti diklat maka akan terlihat bahwa kemampuan lembaga yang ditunjuk sangat terbatas mengingat jumlah guru di Indonesia cukup banyak. Kondisi ini mengharuskan guru untuk mengambil terobosan dalam rangka peningkatan kompetensinya dengan mengikuti diklat online, salah satu penyelenggara diklat online adalah Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Indonesia. DOGMIT Indonesia dapat diakses di: https://e-traininggurumelekit.edu20.org/ yang dibimbing oleh Bapak Sukani. Bapak Sukani adalah salah seorang Trainer Diklat Online hebat di Indonesia.

Saya telah mengikuti DOGMIT sebanyak 3 angkatan yaitu angkatan 24 tahun 2015 pola 81 jam, angkatan 30 tahun 2015 pola 60 jam dan angkatan 3 tahun 2016 (masih berlangsung). pola 60 jam. Banyak teman-teman guru yang telah mengikuti DOGMIT ini 5-8 angkatan sehingga jika dibandingkan dengan teman-teman guru hebat di seluruh Indonesia, maka saya jauh ketinggalan. Kemampuan IT saya yang sangat minim telah  memotvasi saya ikut bergabung di DOGMIT. Bimbingan bapak Sukani melalui modul dan video tutorial yang telah disiapkan adalah metode pembelajaran yang luar biasa buat saya. Menyimak tutorial melalui video sambil praktek sangat menyenangkan dan mendorong rasa ingin yang tinggi, Jika ada permasahan maka pembelajaran dilakukan melalui diskusi dengan teman-teman. Akhirnya perlahan-lahan banyak pengetahuan baru yang saya peroleh. Software-software seperti Snipping Tool,  Audacity, Cyko, Emage Tuner, Sparkol, SnagIT adalah istilah IT yang asing bagi saya sebelumnya. Demikan pula seperti cara menyimpan file di penyimpanan online (Google Drive), cara membuat tes online, cara membuat blog sampai mengelola blog, cara publikasi ilmiah di kompasiana, publikasi video di youtube dan masih banyak lagi yang lain. Pengetahuan IT tersebut sangat membantu dalam tugas rutin saya. Akhirnya pengetahuan tersebut akan berimbas ke teman-teman dan juga peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas.

Membagi pengetahuan IT dengan teman-teman, di sekolah atau siapa saja yang memerlukan adalah hasil yang luar biasa menyenangkan dan menambah rasa percaya diri menjadi lebih tinggi bagi saya. Pengetahuan  IT banyak saya dapatkan di DOGMIT Indonesia, oleh karena itu buat semua guru di Indonesia mari mengembangkan kompetensi IT melalui DOGMIT Indonesia di: https://e-traininggurumelekit.edu20.org/. Perkembangan IT sangat cepat di setiap zaman, maka berusahalah agar tidak ditinggalkan oleh zaman.

Untuk menjalankan fungsi, peran dan kedudukan guru dalam pendidikan maka tidak ada jalan lain kecuali belajar secara berkelanjutan dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi. Guru yang belajar secara berkelanjutan akan mencapai predikat guru profesional. Guru profesional mampu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Insan yang cerdas dan kompetitif akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, bermartabat dan disegani.

Dipublikasi di Diklat Online Guru Melek IT, Kompetensi Guru, Matematikakuyess, Motivasi, Testimoni Ikut Dogmit | Meninggalkan komentar

ALBUM FOTO SISWA

Galeri ini berisi 49 foto.

Galeri | Meninggalkan komentar